Menu


Melihat Arah Kiblat di Kampus

Merespon tanggapan MUI mengenai arah kiblat, tertarik pula untuk melihat arah kiblat di kampus UMSU . Banyak berbagai metode menentukan arah kiblat, baik secara manual maupun menggunakan teknologi terkini. Salah satu metode yang menggunakan teknologi adalah melalui situs www.qib.la. Situs ini menggunakan fasilitas Google Map, arah kiblat ditunjukkan melalui garis merah menuju arah Masjidil Haram. Lihat gambar berikut ini.

 

Penentuan arah kiblat di atas menggunakan bantuan teknologi terkini. Sebagai bahan pengetahuan, Muhammadiyah sebagai organisasi Islam besar di Indonesia telah lama memiliki metode penentuan arah kiblat di dalam buku "Pedoman Hisab Muhammadiyah" yang dapat didownload secara online di sini DOWNLOAD

Baca artikel di bawah ini mengenai metode tersebut yang disadur dari situs Muhammadiyah http://www.muhammadiyah.or.id

Metode Penentuan Arah Kiblat Telah Termuat dalam Pedoman Hisab Muhammadiyah

Yogyakarta – Halaman 25 hingga 42 Pedoman Hisab Muhammadiyah telah memuat secara detail pengertian kiblat, dalil, penentuan arah kiblat, cara mengukur, langkah-langkah pengukuran dan perhitungan disertai contoh-contoh perhitungannya. Pedoman yang terbit pertama Desember 2008 ini telah menjadi panduan warga Muhammadiyah dalam menentukan arah kiblat.


Dalam buku yang bisa di unduh di link ini : DOWNLOAD, salah satu contoh perhitungan, Azimut Kiblat dari Kota Yogyakarta  294° 42' 46,34" , artinya  sekitar 24° dari Barat ke barat laut.  Pedoman ini juga memuat contoh perhitungan arah kiblat untuk lokasi-lokasi di berbagai belahan dunia seperti kota Paramaribo, Suriname (Azimut Kiblat = 68° 07' 58,40''), Kota Amsterdam di Belanda (Azimut Kiblat = 125° 35' 24,96''), dan Kota Teheran di Iran (Azimut Kiblat  = 218° 34' 30,38'').

Pedoman ini juga menyatakan bahwa secara historis cara penentuan arah kiblat di Indonesia mengalami perkembangan sesuai dengan kualitas dan kapasitas intelektual di kalangan kaum muslimin. Perkembangan penentuan arah kiblat ini dapat dilihat dari perubahan besar yang dilakukan Muhammad Arsyad al-Banjari7 dan K.H. Ahmad Dahlan8 atau dapat dilihat pula dari alat-alat yang dipergunakan untuk mengukurnya, seperti miqyas, tongkat istiwa’, rubu’ mujayyab, kompas, dan teodolit. Selain itu sistem perhitungan yang dipergunakan mengalami perkembangan pula, baik mengenai data koordinat maupun mengenai sistem ilmu ukurnya.

Pada saat ini metode yang sering digunakan dalam pengukuran arah kiblat ada tiga macam, yakni: (1) memanfaatkan bayang-bayang kiblat, (2) memanfaatkan arah utara geografis (true north), dan (3) mengamati/ memperhatikan ketika matahari tepat berada di atas Kakbah.

 

Rekomendasi artikel lain:

MUI: Tidak Ada Perubahan Arah Kiblat, Hanya Menyempurnakan

MUI: Tak Perlu Ubah Arah Masjid

 

 

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh